SERI K3 – PENGANTAR K3

Zaman Bangsa Babylonia (Dinasti Summeria) di Irak

Pada era ini masyarakat sudah mencoba membuat sarung kapak agar aman dan tidak membahayakan  bagi  orang  yang  membawanya.  Pada  masa  ini  masyarakat  sudah mengenal berbagai macam peralatan yang digunakan untuk membantu pekerjaan mereka. Dan semakin berkembang setelah ditemukannya tembaga dan suasa sekitar 3000-2500

Sm. Pada tahun 3400 SM masyarakat sudah mengenal konstruksi dengan menggunakan batu bata yang dibuat proses pengeringan oleh sinar matahari. Pada era ini masyarakat sudah membangunan saluran air dari batu sebagai fasilitas sanitasi. Pada tahun 2000 SM muncul suatu peraturan “Hammurabi” yang menjadi dasar adanya kompensasi asuransi bagi pekerja.

Zaman Mesir Kuno

Pada masa ini terutama pada masa berkuasanya Fir’aun banyak sekali dilakukan pekerjaan- pekerjaan raksasa yang melibatkan banyak orang sebagai tenaga kerja. Pada tahun 1500

SM khususnya pada masa Raja Ramses II dilakukan pekerjaan pembangunan terusan dari Mediterania ke Laut Merah. Disamping itu Raja Ramses II juga meminta para pekerja untuk membangun “temple” Rameuseum. Untuk menjaga agar pekerjaannya lancar Raja Ramses II menyediakan tabib serta pelayan untuk menjaga kesehatan para pekerjanya.

Zaman Yunani Kuno

Pada zaman romawi kuno tokoh yang paling terkenal adalah Hippocrates. Hippocrates berhasil menemukan adanya penyakit tetanus pada awak kapal yang ditumpanginya.

Zaman Romawi

Para ahli seperti Lecretius, Martial, dan Vritivius mulai memperkenalkan adanya gangguan kesehatan yang diakibatkan karena adanya paparan bahan-bahan toksik dari lingkungan kerja seperti timbal dan sulfur. Pada masa pemerintahan Jendral Aleksander Yang Agung sudah dilakukan pelayanan kesehatan bagi angkatan perang.

Abad Pertengahan

Pada abad pertengahan sudah diberlakukan pembayaran terhadap pekerja yang mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan cacat atau meninggal. Masyarakat pekerja sudah mengenal akan bahaya vapour di lingkungan kerja sehingga disyaratkan bagi pekerja yang bekerja pada lingkungan yang mengandung vapour harus menggunakan masker.

Abad ke-16

Salah satu tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Phillipus  Aureolus  Theophrastus Bombastus von Hoheinheim atau yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Paracelsus mulai memperkenalkan penyakit-penyakit akibat kerja terutama yang dialama oleh pekerja tambang. Pada era ini seorang ahli yang bernama Agricola dalam bukunya De Re Metallica bahkan  sudah  mulai  melakukan  upaya  pengendalian  bahaya  timbal  di  pertambangan dengan menerapkan prinsip ventilasi.

Abad ke-18

Pada masa ini ada seorang ahli bernama Bernardino Ramazzini (1664 – 1714) dari Universitas Modena di Italia, menulis dalam bukunya yang terkenal : Discourse on the diseases of workers, (buku klasik ini masih sering dijadikan referensi oleh para ahli K3 sampai sekarang).  Ramazzini  melihat  bahwa  dokter-dokter  pada masa  itu  jarang  yang melihat hubungan antara pekerjaan dan penyakit, sehingga ada kalimat yang selalu diin gat pada saat dia mendiagnosa seseorang yaitu “What is your occupation?”. Ramazzini melihat bahwa ada dua faktor besar yang menyebabkan penyakit akibat kerja, yaitu bahaya yang ada dalam bahan-bahan yang digunakan ketika bekerja dan adanya gerakan-gerakan janggal yang dilakukan oleh para pekerja ketika bekerja (ergonomic factors).

 

Era Revolusi Industri (Traditional Industrialization)

Pada era ini hal-hal yang turut mempengaruhi perkembangan K3 adalah :

1. Penggantian tenaga hewan dengan mesin-mesin seperti mesin uap yang baru ditemukan sebagai sumber energi.

2. Penggunaan mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia

3. Pengenalan metode-metode baru dalam pengolahan bahan baku (khususnya bidang industri kimia dan logam).

4. Pengorganisasian pekerjaan dalam cakupan yang lebih besar berkembangnya industri yang ditopang oleh penggunaan mesin-mesin baru.

5. Perkembangan teknologi ini menyebabkan mulai muncul penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pemajanan karbon dari bahan-bahan sisa pembakaran.

Era Industrialisasi (Modern Industrialization)

Sejak era revolusi industri sampai dengan pertengahan abad 20 maka penggnaan teknologi semakin berkembang sehingga K3 juga mengikuti perkembangan ini. Perkembangan pembuatan alat pelindung diri, safety devices. dan interlock dan alat-alat pengaman lainnya juga turut berkembang.

Era Manajemen dan Manjemen K3

Perkembangan  era manajemen modern dimulai sejak  tahun  1950-an  hingga  sekarang. Perkembangan ini dimulai dengan teori Heinrich (1941) yang meneliti penyebab-penyebab kecelakaan bahwa umumnya (85%) terjadi karena faktor manusia (unsafe act) dan faktor kondisi kerja yang tidak aman (unsafe condition). Pada era ini berkembang sistem automasi pada pekerjaan untuk mengatasi masalah sulitnya melakukan perbaikan terhadap faktor manusia. Namun sistem automasi menimbulkan masalahmasalah manusiawi yang akhirnya berdampak kepada kelancaran pekerjaan karena adanya blok-blok  pekerjaan dan tidak terintegrasi dengan masing-masing unit pekerjaan. Sejalan dengan itu Frank Bird dari International Loss Control Institute (ILCI) pada tahun 1972 mengemukakan teori Loss Causation Model yang menyatakan bahwa faktor manajemen merupakan latar belakang penyebab yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Berdasarkan perkembangan tersebut serta adanya kasus kecelakaan di Bhopal tahun 1984, akhirnya pada akhir abad 20 berkembanglah suatu konsep keterpaduan system manajemen K3 yang berorientasi pada koordinasi dan efisiensi penggunaan sumber daya. Keterpaduan semua unit-unit kerja seperti  safety,  health  dan  masalah  lingkungan  dalam  suatu  sistem  manajemen  juga menuntut adanya kualitas yang terjamin baik dari aspek input proses dan output. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya standar-standar internasional seperti ISO 9000, ISO 14000 dan ISO 18000.

Gambar 2 diatas adalah slogan K3, dimana pada tanggal 16 Oktober 2012 oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia, Muhaimin Iskandar, slogan K3 menjadi icon baru untuk mensosialisasikan budaya kerja, dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 secara nasional baik bagi perusahaan maupun berbagai kegiatan sehingga selamat dari berbagai ancaman kecelakaan dan penyakit akibat kerja

Seperti Sistem Manajemen K3 belum sepenuhnya diberlakukan/ belum maksimal penerapannya di Indonesia. Padahal seperti yang kita ketahui, Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya untuk memenuhi hak-hak dasar dan perlindungan tenaga kerja/pekerja guna meningkatkan harkat, martabat

dan harga diri para tenaga kerja/pekerja.

  1. Definisi Dan Perundangan K3

Resiko kecelakaan kerja bisa terjadi kapan saja. Untuk itu, kesadaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja menjadi sangat diperlukan. Undang-Undang No.

1/1970 dan No. 23/1992 mengatur mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Menurut Suma’mur (2001), keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan  suasana  kerja  yang  aman  dan  tentram  bagi  para  karyawan  yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Keselamatan dan kesehatan kerja juga merupakan suatu usaha untuk mencegah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat, yang dapat mengakibatkan kecelakaan.

Undang-Undang yang mengatur K3 adalah sebagai berikut :

  • Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Undang-Undang ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban pimpinan tempat kerja dan pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja.

  • Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

Undang- Undang ini menyatakan bahwa secara khusus perusahaan berkewajiban memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik pekerja yang baru maupun yang akan dipindahkan ke tempat kerja baru, sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan kepada pekerja, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Sebaliknya para pekerja juga berkewajiban memakai alat pelindung diri (APD) dengan tepat dan benar serta mematuhi semua syarat  keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. Undang-undang nomor 23 tahun 1992, pasal 23

Tentang Kesehatan Kerja juga menekankan pentingnya kesehatan kerja agar setiap pekerja  dapat   bekerja   secara  sehat   tanpa   membahayakan  diri  sendiri   dan masyarakat sekelilingnya hingga diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Karena itu,  kesehatan  kerja  meliputi  pelayanan  kesehatan  kerja,  pencegahan  penyakit akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.

  • Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal, cuti sampi dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Sebagai penjabaran dan kelengkapan Undang-undang tersebut, Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden terkait penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), diantaranya adalah :

  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja Pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bum
  • Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas

Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida

  • Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan

Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan

  • Keputusan  Presiden  Nomor  22  Tahun  1993  tentang  Penyakit  Yang Timbul Akibat Hubungan Kerja Keselamatan dan Kesehataan Kerja itu diperuntukkan untuk siapa?

Berdasarkan Undang-undang Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja itu diperuntukkan bagi seluruh pekerja yang bekerja di segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Jadi pada dasarnya, setiap pekerja di Indonesia berhak atas jaminan keselamatan dan kesehatan kerja.

Apa  yang  menjadi  kewajiban  dan  hak   dari  tenaga  kerja  berkaitan  dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja?

Menurut pasal 12 UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, kewajiban dan hak tenaga kerja adalah sebagai berikut :

  • Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja
  • Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan
  • Memenuhi  dan   mentaati   semua   syarat-syarat   keselamatan   dan kesehatan yang diwajibkan
  • Meminta pada Pengurus agas dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan yang diwajibkan
  • Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta  alat-alat  perlindungan  diri  yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung- jawabkan.

Tugas pengurus/pengawas dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja adalah :

Yang perlu diketahui pertama adalah Pengurus/Pengawas merupakan orang yang mempunyai tugas memimpin langsung sesuatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri. Berdasarkan pasal 8, 9, 11 dan 14 Undang – Undang No. 1 tahun

1970  tentang  Keselamatan  dan  Kesehatan  Kerja  Pengurus  bertanggung  jawab untuk :

1. Memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat – sifat pekerjaan yang diberikan padanya.

2. Memeriksa semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya, secara berkala pada Dokter yang ditunjuk oleh Pengusaha dan dibenarkan oleh Direktur

3. Menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang :

4. Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya  serta apa  yang dapat  timbul dalam tempat kerjanya

5. Semua pengamanan dan alat – alat perlindungan yang diharuskan dalam semua tempat kerjanya

6. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan

7. Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya

8. Bertanggung jawab  dalam pencegahan  kecelakaan  dan  pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam pemberian pertolongan pertama dalam kecelakaan.

9. Melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya, pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.

10. Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua

syarat keselamatan kerja yang diwajibkan, sehelai Undang-undang ini dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja  yang bersangkutan, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli kesehatan kerja

Dalam Perjanjian Kerja Bersama akan dikaji hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan upah, keselamatan dan kesejahteraan karyawan. Perusahaan dan setiap pekerja harus sadar sepenuhnya bahwa K3 adalah kewajiban dan tanggung jawab bersama. PKB biasanya akan mengatur mengenai hak dan kewajiban dari para karyawan dalam hal K3 sebagai mana PKB juga akan mengatur mengenai hak dan kewajiban perusahaan. Dalam Perjanjian Kerja Bersama juga tertulis sanksi- sanksi yang diberikan apabila salah satu dari kedua belah pihak melanggar PKB.

Kendala-kendala yang biasa dihadapi dalam pelaksanaan Perjanjian Kerja Bersama dalam hal penerapan K3 :

1. Pemahaman karyawan mengenai isi Perjanjian Kerja Bersama.

Cara  mengatasi  perlunya  pembinaan  atau  koordinasi  dan  sosialisasi  antara pengurus Serikat Pekerja dengan para pekerja melalui musyawarah

2. Penanganan keselamatan kerja tidak optimal

Cara mengatasi adalah apabila terjadi kecelakaan berarti tindakan pecegahan tidak berhasil, maka pihak manajemen perusahaan mempunyai kesempatan untuk mempelajari apa yang salah.

3. Kebijakan perusahaan yang tidak tega

Cara  mengatasi  adanya  tindakan  yang  tegas  apabila  terjadi  ketidakdisiplinan pegawai dalam bekerja

 

  1. JENIS-JENIS KECELAKAAN DI SEKTOR INDUSTRI

 Beberapa industri nampaknya harus lebih hati-hati dan memperhatikan keselamatan kerja para pegawainya, karena beberapa industri di bawah ini adalah industri yang mempunyai tingkat kecelakaan kerja cukup tinggi. Dalam beberapa kasus yang di temukan, jenis kecelakaan kerja di sektor industri di bawah ini adalah yang paling sering terjadi.

Jenis-jenis kecelakaan yang dapat terjadi di sektor industri antara lain :

Elektronik (manufaktur)

  • Teriris, terpotong
  • Terlindas, tertabrak
  • Berkontak dengan bahan kimia atau bahan berbahaya lainnya
  • Kebocoran gas
  • Menurunnya daya pendengaran, daya penglihatan

Produksi metal (manufaktur)

  • Terjepit, terlindas
  • Tertusuk, terpotong, tergores
  • Jatuh terpeleset
  • Terjadinya kontak antara kulit dengan cairan metal, cairan non-metal

Petrokimia (minyak dan produksi batu bara, produksi karet, produksi karet, produksi plastik

  • Terjepit, terlindas
  • Teriris, terpotong, tergores
  • Jatuh terpeleset
  • Tertabrak
  • Terkena benturan keras
  • Terhirup atau terjadinya kontak antara kulit dengan hidrokarbon dan abu, gas, uap steam, asap dan embun yang beracun
  • Rawan dengan bahan bakar yang mudah terbakar.

Konstruksi

  • Kemungkinan jatuh dari ketinggian
  • Kejatuhan barang dari atas
  • Terinjak
  • Terkena barang yang runtuh, roboh
  • Berkontak dengan suhu panas, suhu dingin, lingkungan yang beradiasi pengion dan non pengion, bising
  • Terjatuh, terguling
  • Terjepit, terlindas
  • Tertabrak
  • Terkena benturan keras

Editor :

Agung Wahyudi B., MT. Dosen FT, Teknik Mesin Universitas Mercu Buana (UMB), JakartaKetua Div. Diklat Asosiasi Tenaga Teknik Indonesia (ASTTI).  

Daftar Pustaka :

Busyairi1, Tosungku, L., & Oktaviani, Ayu. (2014). Pengaruh keselamatan kerja dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja. Jurnal Ilmiah Teknik Industri, Vol. 13, 112-124.

Kaligis R. S. V., Sompie, B. F., Tjakra, J., & Walangitan, D. R. O. (2013). Pengaruh implementasi program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap Produktivitas Kerja. Jurnal Sipil Statik Vol 1, 219-225.

Suma’mur.  2001. Keselamatan  Kerja  dan  Pencegahan  Kecelakaan.  Jakarta:  PT.Toko Gunung Agung.

  • Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja.
  • Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
  • Undang – Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
  • Peraturan  Menteri  No.  5  tahun  1996  mengenai  Sistem  ManajemenKeselamatan dan Kesehatan Kerja

http://safetynet.asia/pentingnya-arti-keselamatan-dan-kesehatan-kerja-k3-bagi- perusahaan/

http://www.safetyshoe.com/jenis-jenis-kecelakaan-yang-dapat-terjadi-di-sektor- industri/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) / OHS and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply